Biarkan Tulusku yang Mencintaimu... ( bag II )




cinta datang ketika aku begitu haus dan dahaga oleh seteguk air kasihnya...
namun cinta berubah sangat menyakitkan.. ketika aku harus tahu pernyataannya,
dimana kemelut hati menjadi pipihan tulang rindu...
dan hujan hati menjadi tambang mutiara lautan jiwa yang tabah menerima..



ku belajar untuk mencintai dalam bentuk sederhana...
akan tetapi cinta membalas dengan menghancurkan aku dengan keluar biasaaannya...
yang menjadikan banyak jiwa manai oleh tingkahnya ….



tersayat sembilu pilu dalam ulu hati....
merasuk lekat pada sukma bernyawa ini...,
cinta membuatku hidup sekaligus membuatku setengah mati... memperjuangkannya....



maka uraikanlah.. dengan lembut tutur katamu...
jalinkanlah antara satu dengan yang lainnya atas warna kejujuran itu...



cinta mampu bertahan saat getirnya membaur lepas menindas dalam ruang hati yang luas...
cinta juga sanggup untuk meluluh lantahkan keping – keping asa dengan seketika...



tak akan ada ujung dan pangkalnya ketika semua harus terhenyak mendengar kata cinta ini...
tiada satupun yang kan mengerti dengan cinta itu sendiri yang ternyata masih bisu dalam aku-ku....



menjadikan enggan namun tak dapat berpaling dalam dunia yang hampa tanpa rasa...
dari segala Kuasa-Nya...



inilah cinta...,

cinta yang begitu abstrack untukku melukiskannya..
rasa yang begitu kelu ketika ku harus menerima....
asa yang begitu mulia... di saat mengikis ego menjadi mengerti...

merubah nada tinggi menjadi lebih rendah...
menyenandungkan asmara menjadi syahdu...
menyimbolkan rindu dalam satu ikatnya,

saat badai hati menghempaskan sudut – sudut penyangga sukma...
runtutan rasa menjadikan pelik dalam setiap logika..
rasa yang begitu rumit dan sulit untukku menjelaskannya...
namun begitulah adanya...  cinta .

kasih sayang berlumurkan pengertian....
peduli yang berselimutkan kesetiaan...
dan ikhlas yang bertemankan kesetiaan

apa lagi yang musti aku ucapkan?
sementara  telah habis kata kugoreskan....
kau selalu ada dalam aliran darah penaku..
kau selalu ada dalam tinta hitamku
kanvas lukis rasa dan asaku...

aku hanya berharap dalam cinta .. ku tak akan memupuskan segala pinta dan doaku pada-Nya..
tentang aku  dan dia...

cinta begitu hebat dalam membentuk siapa diriku sebenarnya...,
dan cinta-Nya telah membuatku membuka mata dan hati... untuk lebih jelas dalam mengenal arti cinta itu sendiri...




************************************************************

Pernyataan mas Defian, masih tidak membuatku puas, sampai barulah terbesit dalam fikirku, “kenapa ya? Mas Defian seolah dekat dengan Alif, dan uminya. Kalau pun ia istri dari kakak mas Defian, lantas kenapa sebegitu dekatnya mereka, apa lagi..., mas Defian tau betul soal agama. Sama saja mereka kan bukan muhrim, atau jangan – jangan umi Alif itu istri mas Defian, dan Alif anak mereka?! Astgfirullah..., benarkah itu? ah.., tidak mungkin, mas Defian bilang belum  menikah, dan setega itukah ia berbohong padaku? Tidak mungkin...” tebak ku dalam hati.



Untuk menghilangkan resahku, yang memang seharian tidak online. Aku tanyakan kabar mas Defian via sms malam itu, dan ternyata balasan itu malah berbunyi



“ laporan yah sama pak Guru Defian, kalu umi Alif telfon, cari pak guru Defian apa abinya Alif?” Umi Alif.



Begitu balasan yang aku terima, ternyata yang membalas smsku malah umi Alif, aku semakin bingung, namun ku coba tenang untuk menjawab keresahanku sendiri waktu itu. Mas Defian dan aku memang terkadang suka bercanda, sampai – sampai kami menjuluki satu sama lain dengan istilah“ pak guru dan bu guru

 Ku balas sms nya
“ :) ga kok uni, saya merasa senang saja, karena bisa kenal uni, yah saya cari Pak guru Defian lah, masa Abinya Defian yang saya cari?:)”


begitupun balasanku diterima, ku terima lagi sms darinya...
“ la iya..., pak guru Defian itu abinya  Alif..”


 Aku bingung, dan sempat kaget. Sedih? Mungkin belum terbaca di hati dan raut wajahku saat itu.
 Aku coba sms lagi
“ maksud uni apa yah? Mas Defian Abi Alif? Lalu... berarti uni ini istri mas Defian begitukah uni?”
ada lagi balasan ….


“ Iya ukhty..., saya istri dari Mas Defian, dan Alif itu adalah anak kami...”
jawabnya singkat, jelas dan sangat membuatku terluka……


Entah apa yang aku rasakan waktu itu, bingung, panik, sedih, kecewa. Aku pun menguatkan diriku untuk bisa lebih berfikir jernih.. sambil membalas sms umi Alif.


“ Astgfirullah uni.., jika memang betul pernyataan uni, kenapa mas Defian tidak menyampaikan hal ini dari awal? Maafkan saya uni, saya benar – benar tidak tahu, saya.. sedih mengetahui ini baru saat ini, maafkan saya uni, saya benar – benar minta maaf” balasku dari hati.



“ tidak apa ukhty, saya senang dengan perubahan ukhty yang banyak saya dengar dari abi Alif, jangan bersedih, kami dengan senang hati bersilaturahmi dengan ukhty..., “ jelas umi Alif di smsnya.



Aku semakin sedih, ya Allah..., apa yang telah aku lakukan? Aku melukai perasaan seorang wanita yang seperti aku, aku benar – benar jahat dan berdosa. Allah..., ampuni aku, sebegitu tegakah mas Defian berbohong padaku?! Aku kecewa, aku benci sekali dengan diriku sendiri saat itu. Sekejap saja ia telah mampu menghancurkan utuhnya hatiku.  Aku tidak tahu, dan aku tidak mau  menyamakan hatiku dengan hati umi Alif yang mesti aku paham dia  mungkin lebih sakit dariku. Inikah kepercayaan? Ya Allah inikah jawaban doaku selama ini? Masya Allah..., aku tak mau diketahui mimik mukaku yang sedih dan hancur oleh keluargaku, sehingga aku pergi dan minta ijin untuk main keurmah sahabatku Wita. Di sana aku ceritakan semua, yang selama inipun dia selalu mendengar kisahku dengan mas Defian dari ceritaku.

*****************************************************************


 “ Sudah aku duga Rin..., mas Defian itu terlihat sudah matang, dan waktu aku sempat ngobrol sama dia via YM pun aku merasa seperti sedang mengobrol dengan pria dewasa yang bias ngemong, meskipun mungkin umurnya belum setua yang aku kira, sabar Rin...,” ujar Wita.


            Pedih sekali rasanya. Wita tak bisa berkata,ia hanya mengusap bahuku. Mungkin dia tak berani berucap karena menginginkan aku lebih tenang dulu. Sakit..., sakiiittt sekali. Air mataku tak henti mengalir, hampir aku tak percaya, seseorang yang mengajak aku menikah, bahkan yang telah lama ku kenal baik, dan aku percaya dia tahu yang lebih baik, tapi..., kenapa dia tega menghancurkan hatiku berkeping – keping setelah aku mempunya perasaan terhadapnya teramat dalam. Bodohkah aku? Dosakah aku? Aku tak tahu apa – apa, dia tak memberi keterangan dengan jelas, ucapnya yang belum menikah, Alif yang dikatakan sebagai keponakannya.., anak itu..., wanita yang menelfonku yang aku kira istri kakak darinya, dan sekarang ia mengakui bahwa mas Defian adalah suaminya dan Alif adalah anak mereka.., Allah...., bisakah aku memaafkan semua ini? Ini terlalu dalam melukai hati dan jiwa hamba-Mu yang rapuh ini.



“ tenang dulu aja Rin, mungkin dia bukan jodoh kamu, atu mungkin kamu bisa bicarakan baik – baik dengan dia, ajakan menikah itu bukan suatu hal yang main – main” jelas Wita perlahan padaku.



 Ada keraguan di hatinya yang aku rasa, memandang sahabatnya yang mungkin selama ini banyak mendengar dan menyaksikkan kehidupan bersamanya. Sahabatnya yang baru saja menanggalkan kekelaman bayang masa lalu, dan berusaha lebih baik. Dan kini ia temukan dihadapnya dengan kelukaan yang dalam, yang ia pun berkata tak dapat membayangkan apa yang terjadi jika ia memposisikan dirinya dalam posisiku.

 “ Maaf ya Wita, aku ga tahu aku harus buang sedihku ini dimana, ga mungkin jika aku berada di rumah, aku ga mau ada yang melihat air mataku.”  ucapku tersengal dengan nafas yang tak beraturan karena menangis.


 “yah, ga papa, tapi Rin kalu aku boleh menyarankan, tolong fikirkan semua ini lebih jernih lagi, musti harus memakan waktu kamu, mungkin istri Mas Defian pun sama sepertimu,atau bahkan lebih,  karena dia lebih dulu berada dalam kehidupan mas Defian, yang mungkin dia kira kamu sudah tahu. Sementara kamu adalah pendatang baru, yang mungkin juga sama – sama tak menginginkan hal ini terjadi. Kalian sama – sama terluka. Kita sama – sama wanita Rin, masih banyak laki – laki yang lebih baik, dan lajang yang bisa kamu temuin. Aku ga tahu kenapa kamu begitu dekat dan sepercaya itu padahal kalian kenal dari dunia maya, dunia yang bisa saja semua orang berbohong, dan kamu bisa lihat hasil dari itu sendiri” jelas Wita panjang lebar menasehati dan mencoba memberi aku pengertian. Aku hanya menganggukan kepala dan terdiam mengartikan bahwa aku mengerti apa yang Wita utarakan.



Sepulang dari Wita, ada sms dari mas Defian yang berbunyi “ maafkan aku Rinda, aku tak bermaksud berbohong padamu, mungkin ini juga bagian dari jawaban atas doa – doamu selama ini, tidurlah dik, jangan sedihkan hal ini, aku minta maaf”. Kembali ku menitikkan air mataku, hatiku sungguh perih, bak dicabik cabik, Astgfirullah, semudah itulah dia meminta maaf, sadarkah dia telah membuat istrinya, diriku dan dirinya pun terluka?


Aku berusaha menggerakan jemariku yang memang diriku saat itu dalam kondisi lemah, ku balas sms darinya “ Kenapa mas? Kenapa mas ga bilang dari awal pertama? Aku sedih mas, aku sakit, aku merasa sangat bersalah karena melukai istri mas, aku tidak tahu apa – apa, mas sadar ga sih? Tindakan mas itu salah? Tidurlah lebih dulu dariku, kesakitanku ini tak dapat membuat aku tenang..” balas ku dengan hati yang teriris. Sebentar HP ku pun berbunyi ada balasan lagi “ akan aku jelaskan ini dik, aku merasa belum waktunya kamu tahu semua, tapi sekarang kamu tahu, aku tak mau kehilangan kamu, aku butuh kamu dik, sungguh...”. Aku memegang dadaku yang seolah akan runtuh, meringis  menahan sakit di ulu hatiku. “Astgfirullah...., ampuni aku ya Allah” ujarku lirih.


**************************************************************


Dalam diam


Hari – hariku terasa hambar,  Aku yang bekerja sebagai operator warnet tak sekali - kali pun aku mengaktifkan YM ku setelah kejadian itu, aku takut, aku merasa takut untuk melihat dia Online. Berkali – kali ia menelfonku, namun tak satu pun panggilan darinya ku jawab. Aku biarkan panggilannya terus berdering di Hpku.  Lagi – lagi aku menangis, seperti sudah tak kuat menopang beban ini, bagaimana tidak? Aku terlanjur mencintai dia, aku melihat dia berbeda dengan laki – laki yang lain. Kesungguhannya, ah.. salahkah jika aku merasa mantap keyakinanku padanya musti via dunia maya ini? Berulang kali mustahil itu kerap terdengar di telingaku dengan kalimat “cinta dunia maya hanya membawa petaka”. “Allah..., beritahu apa yang harus aku lakukan untuk diriku dan hidupku selanjutnya.”, harapku dalam hati.



Aku berharap pada Allah agar Dia melapangkan hatiku untuk bisa memaafkan mas Defian, serta menguatkan  pendirianku atas jalinan silaturahmi ini. Aku tahu aku sudah mau dan bisa menerima apa itu poligami, tapi ternyata Allah mempunyai rencana lain, untuk melibatkan aku dalam hal besar seperti ini, walhamdulillah ala kuli hal. Aku mau yang terbaik bagi mereka. Terutama Alif buah cinta dari mereka berdua. Sulit sekali untuk menerima, sering mampir fikiran dan pengandaian, jika saja mas Defian masih lajang. Akan tetapi itu tak akan mengubah semua yang ada dalam alam nyata yang aku terima. Doa, dan selalu berdoa pada-Nya. Kunci yang tak pernah mati bagi hati yang tersakiti.



Diamku bukan untuk mengacuhkan yang terjadi. Akan tetapi aku hanya mencoba menenangkan hatiku, aku tahu diriku. Alhamdulillah, aku masih dapat mengontrol pekerjaanku, dan hal – hal yang menjadi kewajibanku lainnya. Meski ekspresi dan sinar mukaku seperti tak biasanya. Aku rasa lagu lama telah hadir kembali dalam sisi kalbu yang tak pernah ku inginkan kehadirannya. Teringat pesan mas Defian di email sebelumnya bahwa Umi Alif setuju jika dia melamarku. Biarpun ia menyetujui suaminya  menikah lagi, tetap saja tak ada ketenangan dariku karena halnya berbeda, mas Defian tidak mengatakan yang sesungguhnya dari awal pertama. Aku menjadi pemurung, bahkan tak doyan makan. Anganku menari ke atas langit biru, kegagalan masa lalu aku sudah kujadikan ia guru terbaikku, dan sekarang apakah akan ada lagi yang bertambah untuk kehidupanku ini daripada hari kemarin?. Entahlah..., yang aku tahu tulus itu lebih baik adanya.



Hanyut dalam diamku, dering sms mengagetkan aku, aku meraih HP ku, sms mas Defian,  

 “ assalamualaikum, apa kabar dik? Bagaimana keadaanmu? Kenapa tak ada kabar? Aku khawatir, aku sakit di sini, bisakah kau menolongku...? “ katanya di sms.

Dengan mencoba melapangkan hatiku , aku berusaha menjadi seseorang yang berjiwa besar meski rasa sakitku tak sesederhana ucapku. “ waalaikumsalam, maafkan aku. Kalu sakit minum saja obat, bukankah di sana sudah ada yang merawatmu..? “ ku kirimkan dengan setengah perihku. Ada balasan di berikutnya “ maafkan aku lagi dik, harusnya tadi tak usah kukatakan jika aku sakit, maafkan aku jika aku manja, aku hanya tak mau kehilangan kamu...”. Jelasnya dalam.


Bodohkah aku? Jika aku merasa kasihan terhadapnya? Tapi bukankah aku mencintainya? Meski dia sungguh benar – benar menghancurkan keutuhan perasaanku terhadapnya. Aku tak bisa menjauh dari bayang – bayangnya. Setelah sms itu, aku mencoba membuka hatiku, dan mulai perlahan menerima keadaan ini. Dengan berbagai usaha yang tak lepas dari permohonanku kepada-Nya. Aku masih berhubungan dengan mas Defian. Dia jelaskan kenapa dia tak berbicara dari awal, tapi jujur sampai sekarang pun, tindakan itu tidak tepat menurutku. . Astagfirullah, ampunilah aku :(




 Itulah mengapa, aku suka kejujuran, meski pun pahit.

Seperti yang aku telan saat ini Mas Defian menjelaskan lagi lebih detail kenapa ia ingin menikahiku, ada beberapa alasan yang ada dalam syarat dan ketentuan  berpoligami. Namun entahlah, adilkah semua ini? Aku selalu berharap agar ada jalan keluara untuk kami. Dia meyakinkan aku, bahwa dia akan datang, dan tentu saja juga meminta waktu untuk meyakinkan orang tua darinya. Aku cinta dia, tapi bisakah aku berada di tengah – tengah keutuhan mereka sebelumnya?Bayangan mereka terus berada dalam benakku. Hatiku selalu menangis, jika luka itu terbuka dengan kebahagiaan yang terpampang di depan kedua mataku. Melihat senyum mengembang, tawa dan canda ria suara – suara mereka bersama ayah dan ibunya, bayangan mereka seketika muncul dalam hadapanku, walaupun aku tak pernah melihat foto jelas dari istri mas Defian.



Perih, bergerumul bulir – bulir air mata di pelupuk mataku, ingin terjatuh, namun segera aku seka dengan ketegaranku. Mencoba tersenyum dengan pemandangan itu, dimana itu pula yang menjadi impian dan cita – citaku. Memiliki sebuah keluarga kecil sederhana dan bahagia dengan kehadiran buah cinta, buah hati dari dua yang telah menjadi satu.


kisah ini? Siapa yang sungguh merasa bersalah atas semua ini? Aku tak dapat menyalahkan keadaan ini,


Cinta memang tak dapat diperkirakan kehadirannya, tak dapat tertunda meski karena balok – balok perbedaan keras yang menghadangnya. Cinta itu tetap ada dan tumbuh dengan apa adanya.




Luka yang telah kau toreh ini, esok kan kau dapati ia menjadi kasih sayangku padamu, karena sungguh aku mencintaimu meski sampai nanti pun aku tak dapat mendapatkan gelar sebagai istri.



Pembelajaran tulus ini, akankah dapat bertahan? Mungkinkah aku terjerat cinta terlarang?namun  yang bagaimanakah cinta terlarang itu? Apakah cinta harus permisi terlebih dahulu untuk menyuguhkan kehadirannya? Aku tahu mungkin aku salah, tapi tidak sekalipun aku ingin menyalahkan perasaanku ini. Ia hanya sebuah rasa dimana ia tumbuh dengan sambutan hangat dan penuh kasih juga sayang. Sambutan hati dan jiwa yang memerhati dan menjaganya dengan apa adanya.


Cinta tak seperti apapun besarnya, tak akan ku biarkan ia  membutakan aku, dan aku mau dia bahagia. Aku mau kehadiranku yang  tak pernah diinginkannya ini pun, bisa membuat ia lebih baik, mungkinkah semua ini adalah ujian kami bersama? Wallahu Alam. Dalam hidup ini, ingin sekali ku raih keikhlasan, sungguh demi jiwaku yang berada dalam genggamann-Nya, demi Ia yang Maha Membaca Isi Hati ini, aku hanya inginkan yang terbaik di kisahku ini bagi mas Defian, istrinya, terutama Alif, anaknya.

*********************************************************************



di sini,
begitu sepi... dan kosong...
bermain – main dengan angin …
bercanda dengan ruas – ruas bayang...

cinta membuat aku sungguh merindukannya...
cinta juga membuat aku selalu menangis....

bukan karena lelahku...menantinya...
bukan karena sakitku yang tengah ditorehkannya...

akan tetapi karena debu rindu ini semakin menebal...
dan aku sadar..., batinku tak cukup mampu menopang butir – butir kegelisahan...

berputar benak dalam pusara – pusara perantara batinku dengan batinnya..
berharap cinta mengerti untukku selamanya....

juga berharap IA mengenankanku melihat warna pelangi dalam indah langit-Nya..
hingga menjadikan aku merasa  damai dan sejahtera dalam lindung-Nya
dan menjadikan sendiri tetap utuh dalam pengharapan ku terhadap-Nya akan cintaku padanya..


cinta...,
cinta membuka harapan seseorang untuk hidup....
untuk lebih mengindahkan setiap langkah tujuan kemana ia akan pergi....


cinta hanya diikuti oleh hati yg diam - diam menginginkannya...
tiada pula jalan yang pasti jika smua berbeda dengan apa yang diharapakannya..
pengorbanan yang utuh, hati yang luluh, dan jantung yang dibuatnya lumpuh, ...

tak bergerak, bukan berarti tak berjalan,
bernyawa, tak selalu merasa dgn hati yg sempurna,
maka sempurnakanlah segala cita dan asa
sekalipun, tak bisa sempurna dalam memiliki, dan menjamahnya...


serperti aku yang kini mencintainya.....



*****************************************************************************



Biarkan saja jika aku nanti pergi dengan luka – luka yang terpenuhi air mata. Kegagalan dalam tanda keberhasilan yang tertunda, juga ketulusan dalam segala pemberianku padanya. Semoga itu cukup bermakna dalam hidupnya. Aku berdoa  agar Allah selalu menjaga diriku dalam kesedihan, menyayangiku sewaktu aku merasa sendiri. Dan aku meminta pada-Nya, agar aku dikuatkan karena bagaimanapun sampai detik ini, aku masih mencintainya...., dan aku mau dia bahagia, ada atupun tiada diriku di sampingnya. Karena biar bagaimanapun ketulusanlahyang bisa mengalahkan segalanya, dan biarlah tulusku yang mencintai dia, sekalipun aku tak dapat hidup bersama dengannya.




Ya Allah....,
Maha Mulia, lagi Maha Bijaksana....
Inikah jalan ujian dari-Mu bagi hamba ya Rabb?
Jika ini yang terbaik, berikan hamba kemudahan...
berikan hamba kelapangan dada dan jiwa untuk menjalankannya...
berikan kekuatan-Mu untukku bertahan ya Allah...,
berikan aku pengertian tentang ikhlas yang sesungguhnya....
hingga air mata ini tetap menjadi doa – doa bagi jiwa yang selalu terjaga
amien.....





 ** murrabi : Guru mengaji
** walhamdulillah ala kuli hal : segala puji tetap bagi Allah dalam setiap keadaan

Ratih Septiana



Net Blogger II
1. 16 pm
Selasa, 1/ 06/  2010

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar